“Every soul has a gift. Every soul influences other Souls. Every soul has an assignment given to it by it’s Creator.” - Souljah
“Umur berapa ?”
“22 Tahun 6 Bulan”, jawabku cepat.
“Dalam waktu itu, berapa lama kamu habiskan waktumu untuk menjadi orang lain?”
Aku diam.
—————————————————————————————————-
Jangan-jangan kita hanya menghabiskan sedikit dari waktu kita untuk menjadi diri kita sendiri. Dari yang sedikit itu hanyalah sewaktu kita anak-anak dan belum mengenal bangku sekolah formal, dan ketika kita tidur. Bahkan ketika tidurpun ada yang masih berpikir bagaimana tidur dengan posisi yang cantik (?)
Jangan-jangan kita selama ini sibuk menjadi orang lain, menampilkan dalam diri kita apa yang orang mau. Bukan kita yang sebenarnya. Topeng.
Berapa lama waktu kita habiskan untuk menjadi orang lain. Sibuk mengurai pendapat orang tentang diri kita, padahal mereka sama sekali tidak tahu bagaiamana kita. Sibuk berias diri demi tampil cantik atau sporty. Sibuk bekerja mencari uang demi benda-benda gaya hidup agar tampil trendi. Dan sibuk “membeli harga diri” dengan barang-barang bermerk.
Tahukah kamu ada yang mempertaruhkan harga dirinya pada barang-barang bermerk, dimana harga dirinya adalah serupa iPhone, Mercedes, Giorgio Armani, BMW, Rolex, McD, Nike, Motor terbaru (Ninja, CBR?) apalagi? Pada make-up kecantikan nomor 1 yang tanpa memakainya kamu merasa malu dan tidak percaya diri (pada dirimu sendiri) ?
Berapa waktu yang kita habiskan untuk mencari uang, bekerja tak sesuai nurani, dan menghabiskannya untuk menampilkan diri, tapi bukan diri kita sendiri.
Dalam umurmu seperti ini, berapa lama kamu merasa menjadi diri sendiri?
Mungkin hanya pada saat dirumah (?) atau bertemu teman terdekat yang itupun bisa dihitung jari. Tapi, kamu bahagia bukan?
Bahkan orang yang berbohong dengan manis seperti para pecinta yang lalai : “aku mencintaimu apa adanya”, padahal yang dia tampilkan selama ini adalah topeng, hal-hal terbaik yang dia punya dan sesuai dengan harapanmu. Kamu tertipu oleh harapanmu sendiri, Kecian.
Aku lupa kapan terakhir menjadi diri sendiri ketika pertanyaan itu keluar. Dan saat ini, banyak orang yang bahkan tidak lagi mengenal dirinya sendiri. Karena selama ini sibuk menjadi orang lain.
Dan beruntunglah untuk orang-orang yang mampu mengenal dirinya sendiri jauh lebih baik, daripada mengenal orang lain.
Bandung, 6 Juni 2013
(Source: foreverpalestine, via superman95)
— (via zarryhendrik)
(via rahmaputri)
— (via kurniawangunadi)
(Source: isnidalimunthe, via sayasukasaya)
—
(via musafirhina)
(via sayasukasaya)
—
(via kurniawangunadi)Nasihat kyai Rais dalam Rantau 1 Muara - A.Fuadi
Orang yang berpikir sok dewasa, mengatakan bahwa dewasa itu tidak lagi bertingkah seperti anak-anak.
Kasihan sekali engkau duhai orang dewasa, yang menganggap dewasa diukur dari tingkah laku. Mari sedikit aku ajak jalan-jalan.
Kau tau, aku masih bermain dengan mobil-mobilan, membangun kota…
Kelahiran kita telah menjadi tonggak bersejarah lahirnya kebahagiaan bagi kedua orang tua kita. Tangisan kita disambut dengan gelak tawa keluarga besar.
Kelahiran kita dinanti-nantikan, segala hal dipersiapkan. Mulai dari upacara penyambutan hingga popok-bedak-kamar bayi semua disediakan.
Pada…
Alhamdulillah sudah. Sudah saya temukan sebuah jawaban dari pertanyaan yang selama ini hinggap di hati “kenapa memilih Agama Islam?” :)
#Mantaapp MasGun